Ini Alasan Penggunaan Atap Sirap Kian Ditinggalkan

Adat memakai atap sirap untuk atap rumah di golongan warga hulu sungai semakin dibiarkan.

Bersamaan tingginya harga kayu ulin, sirap yang memiliki bahan kayu ulin serta dibikin jadi kepingan tipis itu tidak lagi dipakai warga untuk atap untuk rumah.

Walau sebenarnya, jaman dahulu sirap adalah bahan penting yang dipakai warga, termasuk juga warga Hulu Sungai Selatan

Simak Juga :polycarbonate

H Abdurrahman, pemilik usaha bahan bangunan sekaligus juga usaha pemrosesan kayu ke banjarmasinpost.co.id, beberapa lalu menjelaskan, bertambah 10 tahun, tidak lagi jual sirap.

Kecuali suplai dari perajin jarang-jarang ada, harga semakin mahal.

“Dahulu saya memang jual sirap, saat ini tidak. Warga bertambah pilih bahan semacam seng yang harga bertambah dapat dijangkau,”papar pria asal Nagara yang beberapa puluh tahun menekuni usaha kayu di Jalan Kebat, Kandangan.

Diterangkan, sirap dipasarkan dengan hitungan pak, dimana satu pak terdiri 50 sampai 100 keping. Sirap umumnya dipasok dari Kalimantan Timur, Samarinda.

Artikel Terkait :atap sirap

“Saat ini harga satu paknya beberapa ratus ribu, sebab kayu ulin sendiri semakin mahal harga,”papar

Abdurrahman. Walau semakin dibiarkan, bukan bermakna warga tidak menyenangi bahan bangunan tradisionil itu.

Ida, masyarakat Tibung Raya mengatakan bertambah menyenangi atap sirap daripada bahan kekinian. Kecuali fakta bertambah berharga seni serta etnik, dapat juga membuat rumah semakin dingin.

“Tidak sama dengan tipe bahan seng, jika cuaca panas di rumah juga benar-benar panas. Serta, bila hujan memunculkan bunyi bising. Jika atap sirap, masih dingin serta tidak bising waktu hujan,”kata Ida yang menjaga atap sirap tempat tinggalnya sampai saat ini.

Menurut dia, ketahanan sirap lumayan kuat beberapa puluh tahun. Sayang, tidak ada lagi penjual atap sirap di HSS, hingga bila ingin memakai bahan itu, sangat terpaksa di hadirkan di luar wilayah.

“Setahu saya waktu rehab masjid As Su’ada di Wasah Hilir Kecamatan Simpur, pemerintah masih memakai atap sirap. Infonya dihadirkan dari Samarinda,”papar salah satunya aparat Desa Wasah Hilir.

Menurut masyarakat ditempat, untuk menempatkan atap sirap dibutuhkan tukang spesial. Sampai saat ini, ada banyak tukang bangunan yang punyai ketrampilan menempatkan atap sirap itu.

Tetapi, hampir tidak ada lagi yang memakainya, terkecuali bangunan masjid As Su’ada atau masjid baangkat yang direhab sekian tahun lantas, dengan masih menjaga bahan bangunan sesuai dengan aslinya, yakni kayu ulin serta atap sirap.

You May Also Like

About the Author: Admin